PASURUAN, PasuruanToday.com – Sugik, yang akrab disapa Cak Sugik, memiliki kesibukan lain di luar tugasnya sebagai Kapala Desa Wonokerto, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Ia mengelola kebun sekitar 350 pohon mangga alpukat atau Mangga Clonal yang mampu menghasilkan panen hingga 5–7 kuintal setiap hari.

Produktivitas kebun tersebut menjadi salah satu potensi ekonomi pertanian di Desa Wonokerto. Mangga khas Kabupaten Pasuruan itu tidak hanya dipasarkan di wilayah lokal, tetapi juga telah menjangkau sejumlah kota besar, seperti Surabaya, Jakarta, hingga Pekanbaru.

Aktivitas panen terlihat di kediaman Cak Sugik. Sejumlah keranjang berisi mangga segar memenuhi halaman rumahnya saat proses pengumpulan hasil kebun berlangsung.

Di tengah kesibukannya menjalankan tugas pemerintahan desa, Cak Sugik tetap meluangkan waktu untuk mengelola kebun. Baginya, pertanian tidak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga peluang usaha yang bisa dikembangkan masyarakat.

Ia mengatakan, panen dilakukan secara bertahap untuk menjaga kualitas buah sekaligus memastikan pasokan tetap tersedia bagi pasar.

“Total ada sekitar 350 pohon. Kalau dipanen sekaligus, buah tidak maksimal dan pasar bisa jenuh. Jadi sistemnya bertahap. Setiap hari kami panen, dan setiap kali panen itu bisa mencapai 5 sampai 7 kuintal. Masa panennya bisa sampai 1,5 bulan,” kata Cak Sugik.

Menurut dia, kualitas buah menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan harga jual. Perbedaan ukuran, tingkat kematangan, dan kualitas membuat harga Mangga Clonal bervariasi sesuai dengan grade masing-masing.

“Alhamdulillah pemasarannya sudah sampai Surabaya dan Jakarta. Harga bervariasi tergantung kualitas dan grade-nya. Yang penting kita jaga kualitas, pasar pasti mencari,” ujarnya.

Cak Sugik menilai potensi pertanian di Desa Wonokerto masih terbuka untuk dikembangkan. Karena itu, ia berupaya mendorong masyarakat agar tidak ragu menekuni sektor pertanian sebagai sumber penghidupan.

Ia juga ingin memberikan contoh bahwa seorang pemimpin desa dapat terlibat langsung dalam aktivitas produktif di tengah masyarakat.

“Saya ingin memberi contoh, jadi lurah itu harus memberi bukti, bukan hanya janji. Saya ajak warga, ayo bertani. Tanah Wonokerto ini subur. Kalau dirawat dengan hati, hasilnya luar biasa. Jangan malu jadi petani, karena dari petani kita bisa sejahtera,” tuturnya.

Cak Sugik mengungkapkan, hasil panen Mangga Clonal pada tahun ini lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Selain jumlah buah yang lebih lebat, ukuran dan rasa buah juga dinilai mengalami peningkatan.

“Tahun ini Alhamdulillah hasil panen lebih bagus daripada tahun kemarin. Buahnya lebih lebat, lebih besar, dan lebih manis. Semoga ini jadi penyemangat untuk seluruh petani di Wonokerto dan Kabupaten Pasuruan,” katanya.

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa komoditas pertanian lokal memiliki peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Dengan pengelolaan kebun, pemeliharaan kualitas, serta pemasaran yang berkelanjutan, Mangga Clonal berpotensi menjadi salah satu produk unggulan yang memperkuat perekonomian masyarakat Kabupaten Pasuruan.

Cak Sugik berharap, keberhasilan kebunnya dapat memotivasi warga untuk mengembangkan potensi pertanian desa sehingga mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga.(mif)