PASURUAN, PasuruanToday.com – Konsumsi susu masyarakat Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan sejumlah negara lain. Kondisi ini dinilai perlu diatasi tidak hanya dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap susu, tetapi juga melalui edukasi gizi dan penguatan perlindungan terhadap peternak sapi perah.
Ketua Koperasi Usaha Tani Ternak (KUTT) Suka Makmur, Evi Zainal Abidin, menyebut berdasarkan data 2023, konsumsi susu Indonesia berada di kisaran 16,6 kilogram per kapita per tahun.
Angka tersebut masih berada di bawah Thailand dan Vietnam yang mencapai sekitar 26 kilogram per kapita. Sementara konsumsi susu di China mencapai sekitar 37,5 kilogram, India 85 kilogram, Uni Eropa 220 kilogram, dan Amerika Serikat sekitar 250 kilogram per kapita per tahun.
Meski masih rendah, konsumsi susu nasional menunjukkan peningkatan. Pada 2011, konsumsi tercatat sekitar 11 kilogram per kapita per tahun dan meningkat menjadi 16,6 kilogram pada 2023.
Evi menilai persoalan rendahnya konsumsi susu tidak sepenuhnya berkaitan dengan kemampuan ekonomi masyarakat. Menurutnya, pemahaman orang tua mengenai kebutuhan gizi anak juga menjadi faktor yang perlu diperkuat.
“Orang tua di Indonesia banyak yang kurang paham atau kurang tepat dalam memberikan gizi pada anak, terlebih tentang susu. Jadi bukan hanya karena tidak mampu. Yang kita perlukan sekarang adalah edukasi kepada masyarakat, terutama orang tua, agar memahami kebutuhan gizi anak,” ujar Evi saat berbincang dengan wartawan di KUTT Suka Makmur, Selasa (11/8/2026).
Ia menekankan pemenuhan gizi anak perlu dilakukan sejak usia dini. Menurut Evi, makanan bergizi tidak semata-mata berfungsi untuk mengenyangkan, tetapi juga berperan dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.
“Anak cerdas berawal dari piring yang tepat. Mari kita ajari orang tua memilih gizi, bukan sekadar mengenyangkan. Karena susu bukan beban, tetapi investasi masa depan bangsa,” katanya.
Selain persoalan konsumsi, Evi menyoroti kondisi peternak sapi perah yang menjadi bagian penting dalam rantai pasok susu nasional.
Ia meminta tata niaga susu memberikan kepastian harga yang adil bagi peternak. Menurutnya, harga susu yang tidak stabil dapat mengancam keberlanjutan usaha peternakan rakyat.
“Saya juga tidak ingin para peternak sapi perah menjadi rugi karena ada pihak yang hanya ingin mengambil keuntungan pribadi sehingga harga susu anjlok. Tugas kita bersama menjaga agar harga di pasar tetap stabil dan menguntungkan peternak,” ujar Evi.
Ia menilai harga yang layak akan memberikan ruang bagi peternak untuk mempertahankan usaha sekaligus meningkatkan produksi susu dalam negeri.
Penguatan sektor peternakan dinilai semakin penting karena kebutuhan susu nasional masih banyak dipenuhi melalui produk impor. Karena itu, peningkatan konsumsi masyarakat perlu berjalan beriringan dengan penguatan produksi susu lokal.
Evi juga mengapresiasi kebijakan pemerintah yang mendorong pemenuhan gizi anak, termasuk penyediaan susu dan makanan bergizi di lingkungan sekolah.
Namun, menurut dia, program tersebut tidak cukup hanya berfokus pada distribusi makanan dan susu. Edukasi kepada orang tua serta perlindungan terhadap peternak sebagai produsen susu lokal juga harus menjadi bagian dari kebijakan secara berkelanjutan.
“Upaya Presiden dan pemerintah ini harus kita dukung. Tapi di hulu, edukasi kepada orang tua dan perlindungan kepada peternak juga harus berjalan bersama. Kalau dua hal ini kuat, target konsumsi 30 liter per kapita bisa kita kejar,” katanya.
Pemerintah sendiri menargetkan konsumsi susu nasional dapat meningkat hingga 30 liter per kapita per tahun. Target tersebut diharapkan tidak hanya berdampak terhadap perbaikan asupan gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat ekosistem peternakan sapi perah dalam negeri.
Dengan peningkatan konsumsi yang disertai edukasi gizi, penguatan produksi lokal, dan tata niaga yang memberikan kepastian bagi peternak, susu diharapkan dapat menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat sekaligus investasi bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia.(mif)


Tinggalkan Balasan