GEMPOL, PasuruanToday.com – Dusun Tawangsari, Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, dikenal sebagai salah satu sentra peternakan bebek. Julukan Kampung Bebek masih melekat hingga kini, meski jumlah peternaknya mulai berkurang.
Setidaknya masih ada sekitar 30 peternak yang bertahan dan memproduksi telur asin. Sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan, permintaan telur asin dari kampung tersebut meningkat tajam.
Salah satu peternak, Umar Faruq, mengatakan dirinya telah menekuni usaha ternak bebek sejak 1997. Ia mengawali usaha dengan memelihara sekitar 50 hingga 100 ekor bebek.
“Dulu ya masih sedikit, karena masih nabung untuk beli bebek yang banyak,” kata Umar saat ditemui di rumah sekaligus tempat usahanya, Selasa (1/9/2026).
Kini, jumlah bebek yang dimilikinya telah mencapai lebih dari 800 ekor. Bebek-bebek tersebut ditempatkan di sejumlah kandang yang berada tidak jauh dari rumahnya di RT 3/RW 16 Dusun Tawangsari.
Sebagian kandang merupakan milik pribadi, sementara sebagian lainnya disewa dari keluarganya.
Menurut Umar, salah satu kunci produksi telur asin yang berkualitas terletak pada pakan. Ia memilih menggunakan kepala udang sebagai pakan bebek karena dinilai memiliki kandungan protein tinggi sekaligus lebih ekonomis dibandingkan pakan konsentrat.
“Kalau pakan konsentrat per sak harganya Rp530 ribu. Tapi kalau kepala udang satu blong sekitar 120 kilogram harganya Rp120 ribu. Lebih terjangkau dan gizinya lebih banyak,” ujarnya.
Penggunaan kepala udang juga disebut memberikan karakter tersendiri pada telur asin produksi Tawangsari. Telur memiliki warna kuning-oranye yang lebih pekat dengan cita rasa gurih dan tekstur masir.
Umar mengatakan telur asin produksinya dibuat tanpa bahan pengawet. Produk tersebut dapat bertahan hingga sekitar dua pekan.
“Rasanya masir sekali dan warnanya oranye segar,” katanya.
Selama ini, pemasaran telur asin Tawangsari tidak hanya menyasar wilayah Pasuruan. Permintaan juga datang dari Sidoarjo dan Surabaya.
Bahkan, Umar mengaku beberapa kali mengirim telur asin ke Hong Kong. Pesanan tersebut datang dari warga Indonesia yang berada di luar negeri dan menyukai produk telur asin buatannya.
“Pernah beberapa kali pengiriman ke Hong Kong, ya ada orang Indonesia yang cocok dengan telur asin saya,” tuturnya.
Kepala Desa Kejapanan, Rendi Saputra, mengatakan keberadaan sentra peternakan bebek di Dusun Tawangsari kini dikembangkan sebagai wisata edukasi Kampung Bebek.
Lokasi tersebut kerap menjadi tujuan pelajar maupun mahasiswa untuk mengikuti pelatihan dan kegiatan studi terkait peternakan.
“Selain sebagai wisata edukasi Kampung Bebek, tahun ini kami akan membangun semacam gapura sebagai penanda Kampung Bebek. Anggarannya dari Dana Desa,” kata Rendi.
Menurut Rendi, keberadaan program MBG turut memberikan dampak ekonomi bagi para peternak. Permintaan telur asin meningkat karena produk tersebut menjadi salah satu menu yang dipesan untuk kebutuhan makanan bergizi.
Bahkan, para peternak disebut sempat kewalahan memenuhi pesanan.
“Karena satu SPPG saja bisa order sampai 2.800 telur asin. Ada sekitar 30 peternak dari Kelompok Unggas Harapan Kita, dan alhamdulillah sampai sekarang tetap bertahan,” ujarnya.
Peningkatan permintaan tersebut menjadi angin segar bagi keberlangsungan peternakan bebek di Tawangsari. Di tengah jumlah peternak yang terus menyusut, program MBG membuka pasar baru sekaligus memberikan peluang bagi usaha telur asin lokal untuk tetap bertahan.(mif)


Tinggalkan Balasan